Islam adalah rahmatan lil'alamin mengatur segala hajat umatnya dari mulai persoalan kecil hingga besar.Islam juga tidak dibatasi oleh faktor sosial dan geografis, kita dapat melihat bagaimana Rasulullah pada masa itu mengembangkan Islam tidak terbatas pada satu kabilah dan teritorialnya saja namun semua suku kabilah beliau rangkul dalam satu kalimat "Laa ilaha illallah, Muhammadur rasulullah" sebagai mana Allah gambarkan dalam FirmanNya :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Referensi: https://tafsirweb.com/1235-surat-ali-imran-ayat-103.html
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Referensi: https://tafsirweb.com/1235-surat-ali-imran-ayat-103.html
 Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,
dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali ‘Imran : 103)

Jiwa kepemimpinan yang adil menjadikan Rasulullah berhasil mempersatukan kabilah-kabilah di Jazirah Arab dalam Islam. Sikap adil yang ada pada diri rasul sudah termashur dikalangan para kepala suku dan masyarakat Arab jauh sebelum kenabiannya. Ini terbukti ketika Rasulullah menjadi penengah ketika terjadi perselisihan antar kepala suku dalam proses pemindahan Hajar Aswad ke tempat semula. Persoalan-persoalan berbangsa dan bernegara terkadang muncul ditengah umat yang beragam menjadi konsentrasi beliau dalam da'wahnya. Fanatisme kesukuan dan provokasi kaum kafir masa itu sesekali muncul dan terkadang memancing sikap egoisme sebagian umat masa itu, namun kembali lagi dengan suri tauladan beliau umat dapat tercerahkan.

Terwujudnya masyarakat madani pada masa rosul tidak terlepas dari umat yang kokoh berdasarkan Quran dan sunnah, umat cerdas dalam memahami persoalan-persoalan bernegara, cerdas pula dalam menempatkan hak dan kewajiban baik sesama muslim maupun non muslim.

Muslim Indonesia
Sekilas gambaran muslim Indonesia. Bagaimana seorang muslim hidup dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia?, jauh sebelum negara ini terbentuk,  muslim nusantara sudah menunjukkan sikap,  baik sebagai seorang muslim maupun sebagai satu kesatuan masyarakat diantara kemajemukan masyarakat yang ada. Kendati demikian dengan latar belakang sosial budaya yang komplek, perbedaan itu kerap muncul yang tak jarang menjadi perselisihan di tengah-tengah masyarakat muslim. Kita sadar bahwa penyebaran Islam di Nusantara melalui pendekatan sosial budaya masyarakat setempat namun ini tidak boleh menjadi satu alasan konflik berkepanjangan. Perbedaan cara pandang yang berujung perselisihan sesama muslim dalam beberapa hal menjadi cermin buruknya hubungan sesama muslim (hablumminannas), umat enggan mencari solusi melalui pendekatan kebersamaan. Padahal Rasulullah menjelaskan bahwa solusi dari sebuah pertikaian adalah Al-Quran dan Sunnah.

Muslim dan suksesi
Islam tidak bisa dipisahkan dengan politik karena politik bagian dari Islam sebagaimana Rasulullah mencontohkan pada masa itu. Kontribusi muslim dalam berpolitik membawa pencerahan terhadap sistem berbangsa dan bernegara dan sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT. Seorang muslim tidak boleh apatis dan harus mengambil bagian serta prinsip-prinsip politik harus ditegakkan sejujur-jujurnya.

Muslim dan umat beragama menjadi satu kesatuan masyarakat Indonesia
Indonesia adalah bangsa yang besar dengan segala kemajemukan rakyatnya. Terbentuknya masyarakat sejahtera dan berkeadilan dalam kerangka NKRI bisa terwujud jika masing-masing umat beragama paham dengan hak dan kewajibannya, memahami batas-batas aspek religi masing-masing, tidak bisa satu umat beragama memaksakan aspek religi kepada umat lain atas dasar toleransi. Islam sangat menghormati toleransi  namun menolak tegas bentuk penyesatan pola pikir atas dasar toleransi. Islam mengatur prinsip hubungan antar umat beragam, prinsip hablumminannas tidak hanya kepada sesama muslim tetapi juga umat beragama pada umumnya serta menjadi nilai ketaatan ibadah vertikal kepada Sang Khaliq.

Muslim dan bela negara
Indonesia Adalah negara yang berdaulat dan menghormati kedaulatan negara lain, ancaman dari luar baik secara langsung maupun tidak, menjadi kewajiban muslim menjaga keutuhan negara dari ancaman asing. Ancaman kedaulatan negara tidak hanya datang dari luar namun tanpa disadari datang dari dalam, seperti ancaman disintergrasi bangsa yang disebabkan oleh anak bangsa itu sendiri. 

Kesadaran muslim dalam berbangsa dan bernegara tetap berpedoman kepada prinsip menjunjung perbedaan. Perbedaan suku budaya dan religi seharusnya menjadi perekat kebangsaan. Memahami arti toleransi bukan semata-mata usaha membuat sebagian umat beragama merasa senang dengan mengorbankan prinsip religi itu sendiri tapi lebih kepada konsistensi kita dalam memandang sebuah perbedaan.